LAPORAN PRAKTIKUMSISTEM TERNER CAIR-CAIR



LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA FISIK II
PERCOBAAN V
SISTEM TERNER CAIR-CAIR




OLEH :


NAMA                           :  ALFAHRU MANGIDI
STAMBUK                   :  A1C4 13 050
KELOMPOK                :  III B
ASISTEN PEMBIMBING         : L.M. SADAM AL-A’RAF, S. Pd.



LABORATORIUM JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015
 

 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Ekstraksi-cair-cair tak kontinyu atau dapat disebut juga ekstraksi bertahap merupakan cara yang paling sederhana, murah dan sering digunakan untuk pemisahan analitik. Ekstraksi bertahap baik digunakan jika perbandingan distribusi besar. Alat pemisah yang biasa digunakan pada ekstraksi bertahap adalah corong pemisah. Diagram fasa merupakan cara mudah untuk menampilkan wujud zat sebagai fungsi suhu dan tekanan. alam diagram fasa, diasumsikan bahwa zat tersebut diisolasi dengan baik dan tidak ada zat lain yang masuk atau keluar sistem.
Ektraksi adalah proses pemisahan berdasarkan perbedaan kelarutan. Ekstraksi menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solute) diantara dua fasa cair yang tidak saling bercampur. Teknik ekstraksi sangat berguna untuk pemisahan secara cepat dan bersih, baik untuk zat organik ataupun anorganik, untuk analiss makro maupun mikro. Alat yang digunakan berupa corong pisah (paling sederhana), alat ekstraksi sokhlet, sampai yang paling rumit berupa alat counter current craig.
Ekstraksi terbagi atas dua yaitu ekstraksi padat-cair (Leaching) dan ekstraksi cair-cair (Ekstraksi pelarut). Ekstraksi padat-cair yaitu ketika bahan ekstraksi dicampur dengan pelarut, maka pelarut menembus kapiler-kapiler dalam bahan padat dan melarutkan ekstrak. Sedangkan ekstraksi cair-cair (ekstraksi pelarut) adalah proses pemindahan suatu komponen campuran cairan dari suatu larutan ke cairan yang lain (yaitu pelarutnya).
Percobaan diagram terner (zat cair tiga komponen) ini bertujuan untuk membuat kurva kelarutan suatu cairan (benzena) yang terdapat dalam dua campuran tertentu (kloroform dan air). Prinsip percobaan ini adalah “like dissolve like”, yaitu suatu senyawa terlarut sempurna pada pelarut yang kepolarannya cenderung sama, misalnya senyawa polar terlarut pada pelarut polar, ataupun sebaliknya. Selain itu juga menggunakan prinsip kelarutan tiga komponen menurut “aturan fasa Gibbs”.

1.2  Tujuan Percobaan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
a.       Menggambarkan diagram sistem terner cair-cair, air kloroform-asam cuka.
b.      Menentukan garis dasi (tie line).

1.3  Prinsip Percobaan
Prinsip percobaan dari percobaan ini adalah didasarkan pada hubungan kelarutan dari sistem 3 komponen yaitu kloroform (CHCl3), asam asetat (CH3COOH), dan air (H2O), dengan menentukan massa jenis dari masing-masing sampel.


BAB II
TEORI PENDUKUNG
Fasa adalah bagian yang serbasama dari suatu sistem yang dapat dipisahkan secara mekanik serba sama dalam hal komposisi kimia dan sifat-sifat fisika. Jadi suatu sistem yang mengandung cairan dan uap masing-masing mempunyai bagian daerah yang serba sama. Dalam fasa uap, kerapatannya serba sama di semua bagian pada uap tersebut. Dalam fasa cair, kerapatannya serba sama di semua bagian pada cairan tersebut, tetapi nilai kerapatannya berbeda dengan di fasa uap. Sistem yang terdiri atas campuran wujud gas saja hanya ada satu fasa pada kesetimbangan sebab gas selalu bercampur secara homogen. Dalam sistem yang hanya terdiri atas wujud cairan-cairan pada kesetimbangan bisa terdapat satu fasa atau lebih, tergantung pada kelarutannya. Padatan-padatan biasanya mempunyai kelarutan yang lebih terbatas dan pada suatu sistem padat yang setimbang bisa terdapat beberapa fasa padat yang berbeda. Jumlah komponen dalam suatu sistem merupakan jumlah minimum dari spesi yang secara kimia independen yang diperlukan untuk menyatakan komposisi setiap fasa dalam sistem tersebut (Nadia, 2014).
Dua fasa dikatakan berada dalam kesetimbangan jika temperatur, tekanan dan potensial kimia dari masing-masing komponen yang terlibat di kedua fasa bernilai sama. Salah satu alat yang digunakan untuk memperoleh data kesetimbangan antara fasa liquid dan fasa gas adalah Glass Othmer Still. Adapun hal-hal yang berpengaruh dalam sistem kesetimbangannya yaitu Tekanan (P), Suhu (T), konsentrasi komponen A dalam fase liquid (x) dan Konsentrasi komponen A dalam fase uap (y). Pada penelitian ini digunakan bahan baku etanol dari hasil fermentasi rumput gajah yang sudah didestilasi dengan kadar etanol 96 % dan etanol Pro Analisis dengan kadar 99,8 %. Dari data yang diperoleh, dibuat kurva kesetimbangan uap–cair sistem biner etanol–air. Analisa bahan baku dan produk menggunakan spektrofotometer pharo 100 atau Gas Kromatografi (GC). Dari penelitian sistem biner yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu, dalam penelitian tersebut masih diperlukan kesetimbangan uap–cair sistem biner untuk menghasilkan data yang akurat dan model korelasi yang dapat diaplikasikan untuk memperkirakan kesetimbangan uap–cair sistem multikomponen (Sari, 2010).
Model-model termodinamika seperti equation of state (EoS) atau activity coefficient digunakan untuk mengkorelasi data-data eksperimen tersebut sehingga dapat diperoleh parameter interaksi yang optimal dimana parameter interaksi ini merupakan hasil optimasi atau fitting parameter pada korelasi data kesetimbangan uap–cair dan cair–cair dengan model termodinamika tertentu. Selanjutnya, parameter interaksi tersebut dapat digunakan untuk memprediksi data kesetimbangan uap–cair atau cair–cair yang dibutuhkan sehingga dapat dihasilkan grafik kesetimbangan yang digunakan untuk mendesain kolom distilasi (Hartanto, 2014).
Sistem tiga komponen pada suhu dan tekanan tetap mempunyai jumlah derajat kebebasan paling banyak dua, maka diagram fasa sistem ini dapat digambarkan dalam satu bidang datar berupa suatu segitiga sama sisi yang disebut diagram terner. Jumlah fasa dalam sistem zat cair tiga kompoen tergantung pada daya saling larut antar zat cair tersebut dan suhu percobaan. Andaikan ada tiga zat cair A, B dan C. A dan B saling larut sebagian. Penambahan zat C ke dalam campuran A dan B akan memperbesar atau memperkecil daya saling larut A dan B. Untuk satu fasa kita membutuhkan dua derajat kebebasan untuk menggambarkan sistem secara sempurna dan untuk dua fasa dalam kesetimbangan, satu derajat kebebasan. Cara terbaik untuk menggambarkan sistem tiga koponen adalah dengan mendapatkan suatu kertas grafik segitiga. Konsentrasi dapat dinyatakan dalam istilah % berat atau fraksi mol. Puncak-puncak dihubungkan ke titik tengah dari sisi yang berlawanan yaitu Aa, Bb, Cc. Titik nol mulai titik a, b, c dan titik A, B, C menyatakan komposisi adalah 100 % atau satu. Jadi garis-garis Aa, Bb, Cc merupakan konsentrasi komponen A, B, C. Lebih lanjut, segitiga adalah sama sisi, jumlah jarak-jarak garis tegak lurus dari sembarang titik dalam segitiga ke sisi-sisi adalah konstan dan sama dengan panjang garis tegak lurus antara sudut dan pusat dari sisi yang berlawanan yaitu 100 % atau satu. Diagram fasa merupakan cara mudah untuk menampilkan wujud zat sebagai fungsi suhu dan tekanan. Contoh khas diagram fasa tiga komponen adalah air, kloroform, dan asam asetat. Dalam diagram fasa bahwa zat tersebut diisolasi dengan baik dan tidak ada zat lain yang masuk maupun keluar dari sistem ini. Asam asetat lebih suka pada air dibandingkan kloroform oleh karenanya bertambahnya kelarutan kloroform dalam air lebih cepat dibandingkan kelarutan air dalam kloroform. Penambahan asam asetat berlebih akan membawa sistem bergerak ke daerah atau satu fasa (fasa tunggal). Namun demikian saat komposisi mencapai titik a3, ternyata masih ada dua lapisan maupun sedikit. Setelah penambahan asam asetat diteruskan, pada saat akan menjadi satu fasa yaitu pada titik P. Titik P disebut pleit point atau titik jalin yaitu semacam titik kritis (Rahmawati, 2014).
Kloroform yang kelarutannya dalam air sangat kecil, jika ditambahkan asam cuka, maka kelarutannya bertambah besar. Hal ini disebabkan bahwa asam cuka mudah larut dalam air dan begitu juga asam cuka dapat larut dalam kloroform dalam berbagai perbandingan. Bentuk diagram hasil kelarutan tersebut dilukis dalam segitiga sama sisi yang terjadi pada suhu dan tekanan yang tetap (Anonim, 2015).
Simulasi pemisahan sistem terner Metanol–Etanol–1-Propanol (MEP) pada tekanan atmosfer menggunakan destilasi batch sederhana telah diteliti. Peta kurva residu kemudian dibuat untuk dilihat apakah sistem tersebut mempunyai campuran azeotropik atau campuran zeotropik. Peta kurva residu dari sistem terner MEP tersebut dibandingkan pula dengan peta kurva residu dari sistem terner Aseton–n-Butanol–Etanol. Untuk menghitung tekanan uap jenuh digunakan persamaan Antoine berdasarkan kondisi atmosferik. Koefisien aktivitas dihitung menggunakan persamaan UNIQUAC.Forward-finite-difference digunakan untuk menghitung komposisi dibagian bawah kolom pada waktu yang ditentukan dari komposisi awal MEP. Beberapa nilai-nilai awal komposisi MEP yang telah dipilih untuk melengkapi peta kurva residu dengan simulasi menggunakan bahasa MathLab versi 6.1. Hasil menunjukkan bahwa secara simulasi sistem terner MEP adalah campuran zeotropik, tanpa mempunyai campuran azeotropik biner dari masing-masing komponennya. Peta kurva residu sistem terner MEP kemudian dibandingkan dengan literatur dan divalidasi secara hubungan topologi antara jumlah noda tidak stabil, jumlah noda stabil dan jumlah sadel (Sari, 2006).





















BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1   Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu Buret 50 mL, Statif dan Klem, Botol semprot, Filler, Erlenmeyer 250 mL, Pipet volume 25 mL, Labu takar 100 mL, Gelas ukur 100 mL, Gelas kimia 500 mL.

3.1.2   Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu Kloroform (CHCl3), Asam asetat, Aquades, NaOH 0,2 N, Indikator phenoptalin.

3.2  Prosedur Kerja
3.2.1        Penentuan Densitas
a.       Tiga buret disiapkan, masing-masing berisi air, kloroform, dan asam asetat.
b.      Ditimbang berat kosong gelas kimia.
c.       Siapkan 3 gelas kimia kosong masing-masing dimasukkan ke dalam gelas kimia 5 mL air untuk gelas kimia yang ke I, 5 mL asam asetat untuk gelas kimia yang ke II, dan 5 mL kloroform pada gelas kimia yang ke III.
d.      Ditimbang gelas kimia I, II dan III
e.       Ditentukan densitas masing-masing campuran

3.2.2        Asam Asetat dalam Air dititrasi dengan Kloroform
a.    Disiapkan 10%, 25%, 40%, dan 60% asam asetat dalam air (disiapkan 20 gram untuk masing-masing)
b.    Keempat larutan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
c.    Dititrasi dengan kloroform (CHCl3)
3.2.3        Asam Asetat dalam Kloroform dititrasi dengan Air
a.    Disiapkan sebanyak 10%, 25%, 40%, dan 60% asam asetat dalam kloroform
b.    Keempat larutan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer
c.    Dititrasi dengan air hingga keruh
3.2.4        Penentuan Garis Dasi
a.       Disiapkan sekitar 40 mL campuran dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, dan 40% asam asetat dengan 45 % kloroform dalam masing-masing sistem sisanya adalah air.
b.      Setiap 5 mL cairan masing-masing dititrasi dengan NaOH 0,2 N, kemudian digunakan phenoptalin sebagai indicator.






BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1  Data Pengamatan
4.1.1        Penentuan Densitas
No.
Perlakuan
Pengamatan
1.
Ditimbang berat kosong gelas kimia
30,14 gram
2.
Dimasukkan 5 mL air ke dalam gelas kimia dan ditimbang
34,90 gram dengan berat air 4,70 gram
3.
Dimasukkan 5 mL asam asetat ke dalam gelas kimia dan ditimbang
35,8 gram dengan berat asam asetat 5,66 gram
4.
Dimasukkan 5 mL kloroform ke dalam gelas kimia dan ditimbang
37,87 gram dengan berat kloroform 7,73 gram

4.1.2        Asam Asetat dalam Air dititrasi dengan Kloroform
No.
Perlakuan
Pengamatan
Sebelum
Sesudah
1.
10 % berat asam asetat dalam air dititrasi dengan kloroform
Larutan bening
Putih keruh, terpisah kloroform terpakai = 1,2 mL
2.
25 % berat asam asetat dalam air dititrasi dengan kloroform
Larutan bening
Larutan terpisah, volumE kloroform terpakai 2,40 mL
3.
40 % berat asam asetat dalam air dititrasi dengan kloroform
Larutan bening
keruh, terpisah kloroform terpakai = 2,2 mL
4.
60 % berat asam asetat dalam air dititrasi dengan kloroform
Larutan bening
keruh, terpisah kloroform terpakai = 2,9 mL


4.1.3        Asam Asetat dalam Kloroform dititrasi dengan Air
No.
Perlakuan
Pengamatan
Sebelum
Sesudah
1.
10 % asam asetat dalam kloroform dititrasi dengan air
Bening terpisah
Keruh, terpisah
V air = 1 mL 
2.
25 % asam asetat dalam kloroform dititrasi dengan air
Bening terpisah
Keruh, terpisah
V air = 0,5 mL 
3.
40 % asam asetat dalam kloroform dititrasi dengan air
Bening terpisah
Keruh, terpisah
V air = 2,3 mL
4.
60 % asam asetat dalam kloroform dititrasi dengan air
Bening terpisah
Keruh, terpisah
V air = 5 mL

4.1.4        Penentuan Garis Dasi
No.
Perlakuan
Pengamatan
Sebelum
Sesudah
1.
Campuran 10% asam asetat ditambahkan 45% kloroform dan sisanya air. Dititrasi dengan KOH 1 N dengan indikator phenoptalin
Bening
Larutan berwarna jingga.

Volume KOH = 10,2 mL
2.
Campuran 20% asam asetat ditambahkan 45% kloroform dan sisanya air. Dititrasi dengan KOH 1 N dengan indikator phenoptalin
Bening
Larutan berwarna jingga.

Volume  KOH = 28,5 mL
3.
Campuran 30% asam asetat ditambahkan 45% kloroform dan sisanya air. Dititrasi dengan KOH 1 N dengan indikator phenoptalin
Bening
Larutan berwarna jingga.

Volume KOH = 45 mL
4.
Campuran 40% asam asetat ditambahkan 45% kloroform dan sisanya air. Dititrasi dengan KOH 1 N dengan indikator phenoptalin
Bening
Larutan berwarna jingga.

Volume KOH = 53,2 mL


4.2  Reaksi yang Terjadi
Reaksi kimia yang terjadi dalam percobaan ini, yaitu :
CH3COOH(aq) + KOH(aq) ® CH3COOK(aq) + H2O(l)


4.3  Perhitungan
4.3.1    Penentuan massa jenis (densitas)

Dik :    Massa botol kosong = 30,14 gram
Massa botol + air = 34,90 gram
Volume air = 4,76 mL
Dit       : ρair = … ?
Peny    :
Massa air =  34,90–30,14 = 4,76 g
                      ρair =  =  = 0,952 g/mL
Dengan cara yang sama, maka dapat diketahui massa jenis untuk masing-masing sampel yang disajikan dalam bentuk tabel berikut :
Tabel : Densitas sampel
Sampel
Volume (ml)
massa gelas kosong (g)
massa botol + sampel (g)
massa (g)
ρ (g/ml)
Air
5
30,14
34,90
4,76
0,952
Kloroform
5
30,14
37,87
7,73
1,546
As. Asetat
5
30,14
35,8
5,66
1,132


4.3.2   Penentuan mol (n) dan fraksi mol (x) diagram tiga komponen
      Dik :    Massa campuran          = 20 gram
% asam asetat              = 10%
Volume kloroform      = 1,2 mL
Dit :     Mol dan fraksi mol masing-masing zat = … ?
Peny : Massa asam asetat        =  = 2 g
Massa air                     = 20 g – 2 g = 18 g
mol asam asetat         =  =  = 0,033 mol
mol air                       =  =  = 1 mol
mol kloroform           =  =  = 0,0155 mol
Mol total   = 0,033 mol + 1 mol + 0,0155 mol
= 1,0485 mol
fraksi mol asam asetat=  =  = 0,03147
fraksi mol air             =  =  = 0,95374
fraksi mol kloroform  =  =  = 0,01479
Dengan cara yang sama, maka dapat diketahui mol dan fraksi mol tiap zat dalam campuran asam asetat dengan air asam serta asetat dengan kloroform pada konsentrasi asam asetat 25, 40, dan 60%, tersaji dalam bentuk tabel :
Tabel : Komposisi masing-masing komponen dalam campuran asam asetat  air yang dititrasi dengan kloroform
% Asam Asetat
Sampel
Kadar
Mol
Fraksi Mol
10 %
as. Asetat
2 g
0,033
0,03147
Air
18 g
1
0,95374
kloroform
1,2 mL
0,0155
0,01479

25 %
as. asetat
5 g
0,0833
0,0879
Air
15 g
0,833
0,8793
kloroform
2,40 mL
0,031
0,0327

40 %
as. asetat
8 g
0,133
0,1605
Air
12 g
0,667
0,8051
kloroform
2,2 mL
0,0284
0,034

60 %
as. asetat
12 g
0,2
0,2935
Air
8 g
0,444
0,6515
kloroform
2,9 mL
0,0375
0,055


Tabel. Komposisi masing-masing komponen dalam campuran asam asetat-kloroform yang dititrasi dengan air
% Asam Asetat
Sampel
Kadar
Mol
Fraksi Mol
10 %
as. asetat
2 g
0,033
0,1395
kloroform
18 g
0,1506
0,6365
Air
1 mL
0,053
0,224
25 %
as. asetat
5 g
0,0833
0,3542
kloroform
15 g
0,1255
0,5336
Air
0,5 mL
0,0264
0,1122
40 %
as. asetat
8 g
0,133
0,3746
kloroform
12 g
0,10042
0,2829
Air
2,3 mL
0,1216
0,3425
60 %
as. asetat
12 g
0,2
0,3795
kloroform
8 g
0,067
0,1271
Air
5 mL
0,26
0,4934

4.3.3 Penentuan Garis Dasi
Konsentrasi asam asetat
V1 = volume KOH = 10,2Ml
N1 = normalitas KOH = 1 N
V2 = volume asam asetat = 5 mL
N2 = normalitas asam asetat =          ?
V1 x N1 = V2 x N2
N2     =
=
= 2,04 N
Dengan cara yang sama diperoleh normalitas asam asetat 20%,  30% dan 40% separti dalam tabel berikut:
Tabel : Normalitas asam asetat 10%, 20%, 30% dan 40%
% Asam Asetat
Normalitas Asam Asetat (N)
10%
2,04
20%
5,7
30%
9
40%
10,64

Dik    :

% asam asetat           = 10%
% kloroform              = 45%
% air                          = 45%
Volume  campuran                = 20 mL
Dit     : mol dan fraksi mol masing-masing zat = … ?
Peny: V asam asetat  =  = 2 mL
mol asam asetat         =
                                    =  = 0,038 mol
V kloroform                =  = 9 mL
Mol kloroform             =
                                    =  = 0,1164 mol
V air                            =  = 9 mL
Mol air                         =
                                    =  = 0,476 mol
Mol total  = 0,038 mol + 0,1164 mol + 0,476 mol
                = 0,6304 mol
X asam asetat              =  =
                                    = 0,0603 mol
X kloroform                = =
= 0,1846 mol
X air                            = =
= 0,7551 mol
Fraksi mol total           = 0,0603 mol + 0,1846 mol + 0,7551 mol
                                                = 1
Dengan cara yang sama, maka dapat diketahui mol dan fraksi mol tiap zat untuk konsentrasi asam asetat 20%, 30% dan 40%, yang disajikan dalam bentuk tabel berikut :
Tabel : Komposisi masing-masing komponen dalam campuran asam asetat-air kloroform yang dititrasi dengan KOH 1 N
Sampel
V (ml)
ρ (g/ml)
Mol
fraksi mol
Asam asetat
2
1,132
0,038
0,0603
Kloroform
9
1,546
0,1164
0,1846
Air
9
0,952
0,476
0,7551
Asam asetat
4
1,132
0,0754
0,1342
Kloroform
9
1,546
0,1164
0,2071
Air
7
0,952
0,3702
0,6869
Asam asetat
6
1,132
0,1132
0,2291
Kloroform
9
1,546
0,1164
0,2356
Air
5
0,952
0,2644
0,5352
Asam asetat
8
1,132
0,1509
0,3542
Kloroform
9
1,546
0,1164
0,2732
Air
3
0,952
0,1587
0,3725


Keterangan :
CHCl3             =0,3
H2O                 = 0,5
CH3COOH     = 0,2


 























Gambar. Diagram fasa tiga komponen asam asetat 30% dalam kloroform
4.4  Pembahasan
Ekstraksi adalah proses pemisahan berdasarkan perbedaan kelarutan. Ekstraksi menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solute) diantara dua fasa cair yang tidak saling bercampur. Ekstraksi terbagi menjadi dua yaitu ekstraksi padat-cair dan ekstraksi cair-cair. Sehingga ekstraksi yang digunakan dalam percobaan ini adalah ekstraksi cair-cair (ekstraksi pelarut).
Ekstraksi cair-cair merupakan pemisahan komponen kimia diantara dua fasa pelarut yang tidak saling bercampur dimana sebagian komponen larut pada fasa pertama dan sebagian pelarut pada fasa kedua, lalu kedua fasa yang mengandung zat terdispersi dikocok, lalu didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan fasa cair, dan komponen kimia akan terpisah dalam kedua fasa tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap.
Kesempurnaan ekstraksi bergantung pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan. Semakin sering kita melakuka ekstraksi, maka semakin banyak zat terlarut terdistribusi pada salah satu pelarut dan semakin sempurna proses pemisahannya. Jumlah pelarut yang digunakan untuk tiap kali mengekstraksi juga sedikit, sehingga ketika ditotal jumlah pelarut untuk ekstraksi tersebut tidak terlalu besar agar dicapai kesempurnaan ekstraksi. Hasil yang baik diperoleh dengan jumlah ekstraksi yang relatif besar dengan jumlah pelarut yang kecil.
Pada percobaan kali ini dilakukan sistem terner cair-cair, dengan tujuan untuk menggambarkan diagram sistem terner cair-cair, air kloroform-asam cuka dan menentukan garis dasi (tie line). Prinsip percobaan ini didasarkan pada hubungan kelarutan dari sistem 3 komponen yaitu kloroform (CHCl3), asam asetat (CH3COOH), dan air (H2O), dengan menentukan massa jenis dari masing-masing sampel. Hal ini dilakukan beberapa kali dengan perbandingan asam asetat yang berbeda untuk mencari perbandingan yang mana yang mampu mencampur ketiga komponen ini.
Tahap pertama pada percobaan ini adalah menentukan densitas masing-masing sampel. Sampel yang digunakan adalah air (H2O), kloroform (CHCl3) dan asam cuka/asetat (CH3COOH). Pada tahap penentuan densitas, perlakuan pertama yang dilakukan dengan menimbang gelas kimia sehingga berat yang diperoleh setelah penimbangan yaitu 30,14 gram. Kemudian dimasukkan sampel ke dalam gelas kimia dengan volume 5 mL. Maka, setelah dilakukan penimbangan diperoleh berat air (H2O) 4,70 gram, kloroform (CHCl3) 7,73 gram dan asam cuka/asetat (CH3COOH) 5,66 gram. Setelah mendapatkan data tersebut maka dapat ditentukan massa jenis tiap-tiap sampel air 0,952, kloroform 1,546, dan asam asetat 1,132.
Tahap kedua pada percobaan ini yaitu dengan membuat asam asetat dengan konsentrasi bervariasi yaitu 10 %, 25%, 40%, dan 60%, kemudian masing-masing larutan tersebut dititrasi dengan menggunakan volume kloroform 1,2 mL, 2,40 mL, 2,2 mL, dan 2,9 mL, maka dapat ditentukan mol dan fraksi mol dari asam asetat, air dan kloroform secara berturut-turut untuk 10% adalah untuk mol asam asetat 0,033, mol air 1 dan mol kloroform 0,0155, sedangkan untuk fraksi mol asam asetat 0,03147, fraksi mol air 0,95374  dan fraksi mol kloroform 0,01479. Proses titrasi ini dilakukan untuk mengetahui keseimbangan campuran dalam sistem terner cair-cair tersebut. Bila telah tercapai kesetimbangan maka kita dapat memperoleh jumlah perbandingan mol yang konstan.
Perlakuan selanjutnya dengan cara yang sama, tetapi campurannya adalah asam asetat didalam kloroform dan dititrasi dengan volume air yang digunakan 1 mL untuk 10%, volume air yang digunakan 0,5 mL untuk 25%, volume air yang digunakan 2,3 mL untuk 40% dan volume air yang digunakan 5 mL untuk 60% yang digunakan pada saat titrasi. Dari data yang sama pada perlakuan sebelumnya, maka diperoleh mol dan fraksi mol masing-masing sampel dalam persen tertentu pada larutan 10% yaitu untuk mol asam asetat 0,033, kloroform 0,1506, dan air 0,053, sedangkan fraksi mol asam asetat 0,1395, kloroform 0,6365, dan air 0,224. Proses titrasi ini dilakukan untuk mengetahui keseimbangan campuran dalam sistem terner cair-cair tersebut. Bila telah tercapai kesetimbangan maka kita dapat memperoleh jumlah perbandingan mol yang konstan.
Tahap terakhir pada percobaan ini yaitu menentukan garis dasi (tie line) dengan cara membuat larutan campuran asam asetat dengan konsentrasi yang bervariasi 10%, 20%, 30% dan 40%, kemudian masing-masing campuran ditambahkan 45% kloroform dan sisanya air. Masing-masing larutan dengan konsentrasi yang berbeda-beda dititrasi dengan KOH 1 N dengan volume KOH masing-masing yang digunakan yaitu 10,2 mL, 28,5 mL, 45 mL, dan 53,2 mL, dan dilakukan pula penambahan indikator phenoptalin.
Berdasarkan pengamatan yang diamati mula-mula semua larutan bening setelah dititrasi semua larutan berwarna jingga. Dari hasil data yang didapatkan maka dapat ditentukan massa jenis tiap sampel yaitu untuk asam asetat 1,132 g/mL dengan molnya 0,038 dan fraksi molnya yaitu 0,0603, kemudian pada kloroform hasilnya yaitu 1,546 g/mL, 0,1164, dan 0,1846 dan pada air yaitu 0,952 g/mL, 0,476 dan fraksi molnya yaitu 0,7551 untuk campuran 10%. Ada pun garis dasi (tie line) dari fraksi tersebut dapat dilihat pada analisis data.














BAB V
SIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
a.       Sistem terner cair-cair merupakan penambahan komponan ke-3 pada dua komponan yang tidak saling bercampur. Misalnya, larutan asam asetat yang sangat mempengaruhi kelarutan baik dalam air maupun dalam kloroform.
b.      Salah satu cara menggambarkan sistem terner cair-cair adalah dengan penggambaran diagram fasa tiga komponen. Dari diagram ini, dapat ditentukan sebuah garis dasi (tie line). Garis dasi menunjukkan keadaan dimana kesetimbangan komponen-komponen saat bercampur.







DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2015). Penuntun Praktikum Kimia Fisik II. Kendari: Universitas HaluOleo.

Hartanto, D. (2014). Review Model dan Parameter Interaksi pada Korelasi Kesetimbangan Uap-Cair dan Cair-Cair Sistem Etanol (1) + Air (2) + Ionic Liquids (3) dalam Pemurnian Bioetanol. Jurnal Rekayasa Proses, 8 (1), 1 – 11.

Nadia, A. (2014). Kesetimbangan Fasa. Jurnal Praktikum Kimia Fisik II, 1 – 11.

Rahmawati, H. (2014). Kesetimbangan Fasa. Jurnal Praktikum Kimia Fisik II, 1-11.

Sari, Ni Ketut. (2010). Data Kesetimbangan Uap-Air dan Ethanol-Air dariHasil Fermentasi Rumput Gajah. Jurnal Teknik Kimia, 5 (1), 363 – 372

Sari, N.K., Kuswandi, Soewarno, N., & Handogo, R. (2006). Komparasi Peta Kurva Residu Sistem Terner Aseton-n-Butanol-Etanol dengan Metanol-Etanol-Propanol. Reaktor, 10 (2), 75 – 81








LAMPIRAN  PROSEDUR KERJA
            Perlakuan Awal


 












1.      Air Sebagai Pelarut












Hasil


 

Hasil


 

Hasil


 

Hasil


 
 
















2.      Kloroform Sebagai Pelarut



 














3.     
(10% asam cuka + 45% kloroform + 45% air)
40 mL



 
(20% asam cuka + 45% kloroform + 45% air)
40 mL



 
(30% asam cuka + 45% kloroform + 45% air)
40 mL



 
(40% asam cuka + 45% kloroform + 45% air)
40 mL



 
Komposisi Campuran Pada Fasa Kedua Diplot Pada Diagram 3 Komponen























 

















Latest


EmoticonEmoticon